Vinfast Perkuat Ekosistem Kendaraan Listrik di Indonesia: Empat Pilar Utama dan Inovasi Berani

Hai Phong, Vietnam – Vinfast semakin menunjukkan komitmen seriusnya dalam memajukan industri kendaraan listrik di Indonesia. Bukan sekadar menawarkan mobil dengan harga bersaing, pabrikan asal Vietnam ini membawa visi besar: membangun ekosistem kendaraan listrik (EV) yang komprehensif untuk mempercepat adopsi mobil listrik di Tanah Air.
Empat Pilar Strategi Vinfast di Indonesia

Menurut CEO Vinfast Indonesia, Kariyanto Hardjosoemarto (Kerry), strategi Vinfast bertumpu pada empat pilar utama:
Pabrik Subang: Vinfast sedang mempersiapkan pabrik perakitan di Subang, Jawa Barat, yang dijadwalkan beroperasi pada akhir 2025. Pabrik seluas 170 hektare ini akan memiliki kapasitas produksi awal 50 ribu unit per tahun.
Line-up Produk Beragam: Vinfast akan menghadirkan portofolio produk yang lengkap, mulai dari VF3 sebagai model entry-level, hingga VF34, VF5, VF6, dan VF7 untuk memenuhi berbagai segmen konsumen.
Infrastruktur Pengisian Daya: Melalui kerja sama dengan afiliasinya, VGreen, Vinfast akan memperluas jaringan stasiun pengisian daya hingga ke pelosok daerah, memastikan ketersediaan charging station bagi konsumen.
Smart Mobility: Layanan taksi listrik Green SM, yang kini beroperasi di Jakarta, Makassar, dan Surabaya, adalah salah satu wujud nyata dari pilar ini dan akan segera diperluas ke kota-kota lain.
Kerry menjelaskan, “Keunggulan kami tidak hanya pada produk, tetapi juga pada bagaimana kami membangun ekosistem yang meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk beralih ke kendaraan listrik.”
Fokus Penuh pada BEV, Bukan Hybrid

Mengenai kemungkinan menghadirkan mobil hybrid, Kerry menegaskan bahwa Vinfast tetap berfokus pada Battery Electric Vehicle (BEV). Ia berpendapat bahwa hybrid hanyalah teknologi transisi, dan Indonesia memiliki potensi besar untuk langsung memasuki era kendaraan listrik sepenuhnya. “Dengan pesatnya perkembangan infrastruktur pengisian daya dan teknologi baterai yang semakin maju, kami yakin masyarakat Indonesia siap melompat langsung ke kendaraan listrik murni,” tegasnya.
Inovasi Skema Baterai Subscription
Salah satu terobosan Vinfast di Indonesia adalah penerapan skema baterai subscription yang berlaku efektif sejak 1 Agustus 2025. Sistem ini memungkinkan konsumen membeli mobil dengan harga lebih terjangkau karena biaya baterai tidak termasuk dalam harga awal.
Pengguna hanya perlu membayar biaya langganan bulanan tetap tanpa batasan jarak tempuh. Sebagai contoh, untuk model VF3, tarifnya sekitar Rp253 ribu per bulan. Skema ini juga fleksibel, memungkinkan pemilik baru untuk melanjutkan langganan atau membeli baterai penuh jika kendaraan dijual. “Respons pasar sangat positif. Lebih dari 50% konsumen telah memilih opsi baterai subscription karena kesederhanaan dan transparansinya,” ujar Kerry.
Prospek Cerah EV di Indonesia

Pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia terus menunjukkan tren positif. Data Gaikindo mencatat peningkatan penetrasi BEV dari 1% pada 2022, menjadi 5% pada 2023, dan telah mencapai 10% per Agustus 2025. Pemerintah menargetkan setidaknya 50% pasar otomotif Indonesia akan berbasis listrik pada 2030.
Vinfast optimistis target ini realistis dan berkomitmen untuk menjadi bagian dari transformasi tersebut. “Indonesia memiliki potensi luar biasa. Kami datang bukan hanya untuk berbisnis, tetapi juga untuk tumbuh bersama bangsa ini. We’re going to stay, we’re going to grow with the nation,” tutup Kerry.
Penulis: Mohammad Ryan Adriansyah
Editor: Tutus Subronto