Aion UTBeritaGAC Indonesiamobil listrikNewsRepost #carmudi

Sehari Bersama Aion UT: Digeber di Tol Hingga Nanjak di Bandung

Bandung selalu jadi primadona destinasi liburan warga Jakarta, tapi kali ini perjalanan ke sana terasa berbeda karena tim Carmudi melakukannya dengan cara yang lebih modern, mengandalkan mobil listrik Aion UT.

Perjalanan Jakarta–Bandung–Jakarta ini bukan sekadar jalan-jalan, melainkan juga menjadi ujian realistis untuk membuktikan kemampuan mobil listrik compact asal Tiongkok tersebut.

Sehari Bersama Aion UT: Digeber di Tol Hingga Nanjak di Bandung

(Foto: Aion)

Sepanjang perjalanan, gaya berkendara yang diterapkan sama sekali tidak dibuat-buat. Tidak ada usaha khusus untuk menghemat daya baterai, bahkan Aion UT beberapa kali diajak melaju kencang di tol.

Justru di situ menariknya, bagaimana performa dan efisiensi mobil listrik ini ketika digunakan secara apa adanya, seperti yang mungkin dilakukan pemilik pada kehidupan sehari-hari.

Selain klaim jarak tempuh maksimal 500 km dari baterai berkapasitas 60 kWh, ada rasa penasaran lain yang ingin dibuktikan, yakni apakah kabin Aion UT dengan dimensinya yang relatif kompak masih nyaman digunakan empat orang dalam perjalanan seharian penuh?

Baca juga: Simak 5 Perbedaan Utama Aion UT Varian Standard dan Premium Beserta Spesifikasinya

First Impression

Dari luar, Aion UT menampilkan pendekatan desain rounded atau membulat di setiap sisinya. Sekilas, ada nuansa yang mengingatkan pada MINI Electric, mungkin karena wheelbase yang ditarik sejauh mungkin untuk memaksimalkan ruang kabin.

Di atas kertas, dimensi Aion UT mencatat panjang 4.270 mm, lebar 1.850 mm, tinggi 1.575 mm, dengan jarak sumbu roda 2.750 mm.

Desain memang soal selera, tapi ada detail unik di bagian depan. Lower grille Aion UT dibuat dengan garis miring satu arah, bukan vertikal ataupun simetris di tengah, sehingga memberi karakter berbeda walau mungkin butuh waktu untuk membiasakan mata.

Sehari Bersama Aion UT: Digeber di Tol Hingga Nanjak di Bandung

(Foto: Carmudi/Mada Prastya)

Masuk ke interior, pabrikan terlihat serius mengurangi penggunaan tombol fisik. Bahkan pengaturan spion maupun suhu AC harus dilakukan lewat head unit 14,6 inci.

Untungnya, antarmuka cukup mudah dipahami, termasuk adanya shortcut untuk pengaturan AC dan lampu.

Selain itu, hadir pula fitur voice command dengan keyword “Hello, baby!” yang memungkinkan pengemudi mengontrol fungsi tertentu tanpa harus menyentuh layar, mulai dari mengganti mode berkendara hingga membuka sunshade panoramic roof.

Untuk ukuran mobil listrik Rp300 jutaan, fitur Aion UT terasa impresif. Jok depan sudah dilengkapi ventilasi, head unit punya navigasi bawaan, tersedia Apple CarPlay wireless, hingga wireless charger di konsol tengah.

Joknya juga bisa diatur secara elektrik dan punya opsi sofa mode untuk menambah kenyamanan saat berhenti berkendara dan butuh merebahkan badan.

Pengalaman Berkendara

Posisi mengemudi Aion UT patut diapresiasi. Ergonomis dan nyaman dengan arm rest yang berada di konsol tengah maupun pintu memudahkan pengemudi menyandarkan tangan dengan rileks selama memegang setir.

Sayangnya, lingkar kemudi hanya bisa diatur tilt, tanpa telescopic. Meski begitu, jok lebar dengan head rest yang menopang kepala dengan baik mampu menutupi kekurangan tersebut.

Sehari Bersama Aion UT: Digeber di Tol Hingga Nanjak di Bandung

(Foto: Carmudi/Mada Prastya)

Visibilitas ke depan juga baik, mirip membawa hatchback modern dengan kaca depan agak landai, tapi tidak sampai mengganggu pandangan. Suspensinya terbilang empuk, cocok untuk konsumen yang menyukai kenyamanan.

Meski demikian, di beberapa kondisi seperti melewati jalan bergelombang, redaman terasa kurang stabil karena suspensi “naik” terlalu cepat.

Kekedapan kabin patut diacungi jempol. Meski mobil listrik umumnya senyap karena tanpa suara mesin, Aion UT juga cukup efektif meredam suara kendaraan sekitar.

Soal performa, motor listrik bertenaga 150 kW (setara 204 hp) dengan torsi 210 Nm terasa cukup mumpuni. Mobil ini responsif diajak ngebut di tol dan sanggup melibas tanjakan di Dago tanpa kendala berarti.

Sehari Bersama Aion UT: Digeber di Tol Hingga Nanjak di Bandung

(Foto: Aion)

Perjalanan pulang menjadi kesempatan mencoba mode Power Safe yang mengoptimalkan regenerative braking saat melewati jalan menurun. Hasilnya cukup membantu menambah tabungan daya ke baterai.

Total jarak tempuh perjalanan ini lebih dari 300 km. Berangkat dari Warung Buncit, Jakarta Selatan menuju Dago Pakar, Bandung lalu kembali ke Jakarta dengan finish di Karet Semanggi.

Perjalanan ditempuh tanpa melakukan pengecasan sama sekali. Setibanya di Jakarta, Aion UT Premium yang tim Carmudi gunakan masih menyisakan jarak tempuh 139 km dengan konsumsi rata-rata 13,8 kWh/100 km.

Sebagai informasi, Aion UT itu sendiri sudah mendukung DC fast charging dengan soket CCS2 serta fitur V2L (Vehicle to Load) untuk memasok listrik ke perangkat elektronik eksternal.

Kesimpulan

Dengan harga Rp363 juta, Aion UT Premium muncul sebagai pilihan menarik bagi konsumen yang mencari hatchback listrik untuk penggunaan harian maupun perjalanan antarkota.

Kelebihan utamanya ada pada fitur kabin lengkap, kenyamanan berkendara, dan daya jelajah baterai yang realistis.

Sehari Bersama Aion UT: Digeber di Tol Hingga Nanjak di Bandung

(Foto: Aion)

Meski ada beberapa catatan, seperti minimnya tombol fisik serta absennya pengaturan telescopic pada setir, mobil ini tetap layak dipertimbangkan.

Perjalanan Jakarta–Bandung PP yang tim Carmudi lakukan membuktikan bahwa Aion UT tidak hanya mampu, tapi juga memberikan pengalaman berkendara yang menyenangkan dan cukup praktis untuk kebutuhan mobilitas modern.

Baca juga: Harga Resmi Dua Varian Aion UT Rp300 Jutaan, Dilengkapi Garansi Seumur Hidup

Penulis: Mada Prastya
Editor: Santo Sirait

Related Articles

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker