DRIVER

Hati-hati, Jangan Isi Bensin Tidak Sesuai Spesifikasi Mesin!

Isi bensin dengan kadar oktan lebih tinggi jadi pemborosan

Mesin kendaraan bermotor performanya bakal optimal apabila memakai BBM berkualitas baik. Namun jangan salah, kadar RON atau oktan dari bensin juga harus tepat. Jangan sampai Anda isi bensin dengan nilai oktan terlalu rendah atau terlalu tinggi.

Sebab besaran kompresi mesin berkaitan dengan oktan bahan bakar yang diperlukan. Semakin tinggi perbandingan kompresi ruang bakar, semakin tinggi pula kandungan oktan yang dibutuhkan untuk terbakar. Soal spesifikasi BBM ini bisa Anda lihat pada buku pedoman pemilik kendaraan.

Baca juga:
Warna Mobil Cerminkan Karakter Pemiliknya, Benarkah?
Macam-Macam Penyakit Khas Nissan Grand Livina

Biasanya, pabrikan menjelaskan soal tingkat kompresi mesin. Anda tinggal menyesuaikan jenis bensin saat sedang isi BBM.

Mesin berkompresi rendah lebih ideal menggunakan bahan bakar dengan oktan yang rendah. Semakin tinggi rasio kompresi suatu kendaraan, maka akan lebih baik memakai BBM dengan oktan yang juga lebih tinggi.

 

 

Isi bensin dengan kadar oktan yang jauh di atas rekomendasi pabrikan juga belum tentu mendongkrak performa secara instan. Yang ada, malah jadi pemborosan karena harga BBM tersebut pastinya lebih mahal dan terbuang percuma.

Pada beberapa kendaraan, Anda bahkan perlu mengatur ulang langsam di setelan injektor/karburator ketika memakai bahan bakar dengan oktan tidak sesuai kompresi supaya hasilnya maksimal.

Perbandingan Kompresi dengan Oktan yang Tepat

Isi Bensin Non Subsidi (Foto: Daihatsu)

Anda mungkin tidak mengetahui bila saat isi bensin dengan oktan bakar yang jauh diatas kebutuhan kompresi mesin malah bisa membuat brebet. Berikut ini daftar bahan bakar berikut RON di Indonesia, yang sesuai dengan kompresi mesin:

Brand Oktan Kompresi
(Pertamina) Premium 88 7-9:1
(Pertamina) Pertalite 90 9-10:1
(Pertamina) Pertamax 92 10-11:1
(Shell) Super 92 10-11:1
(Total) Performance 92 92 10-11:1
Shell V-Power 95 11-12:1
(Total) Performance 95 95 11-12:1
(Pertamina) Pertamax Turbo 98 11-12:1

Dari data di atas, Anda perlu mengetahui bila pabrikan kendaraan merancang mesin dengan tingkat kompresi sesuai kebutuhan.

Mobil super sport seperti Lamborghini misalnya, memiliki tingkat kompresi yang setara dengan MPV sejuta umat, Toyota Avanza. Automobili Lamborghini sebagai produsen juga memperhitungkan soal performa dan durabilitas mesin dari sang supercar.

Pada mobil atau motor keluaran di bawah tahun 2000 biasanya dirancang dengan kompresi di bawah 9,0:1. Dengan demikian, mesinnya lebih cocok diisi bensin Premium yang memiliki oktan 88.

Isi bensin dengan oktan yang lebih tinggi dari kebutuhan rasio kompresi sebenarnya masih diperbolehkan, asalkan hanya satu step saja. Misalnya, mobil dengan rasio kompresi 10-11:1 yang biasanya memakai RON 92, bisa diisi dengan RON 95 bila dalam kondisi mendesak.

Dalam ruang bakar, timing nyala busi sudah di set sesuai dengan kompresi dan jenis BBM. Kendaraan bermotor dapat mengubah timing ignition secara otomatis selama masih dalam batasnya.

Kendaraan yang diisi bensin dengan oktan yang jauh lebih tinggi menyebabkan mesin panas, karena timing ignition yang sudah mencapai batasnya.

Jangan Gonta-Ganti Saat Isi Bensin

Anda mungkin termasuk yang sering gonta-ganti BBM, tergantung stok yang ada di SPBU. Perilaku gonta-ganti bahan bakar ini sebenarnya malah jadi sia-sia. Alasannya, zat aditif pada BBM non subsidi menjadi tidak efektif jika dicampur dengan Premium.

Bila tujuannya ingin sedikit mengail tenaga, isi bensin dengan RON lebih tinggi sedikit membantu. Syaratnya, jumlah campuran harus sama rata, 50:50. Pengendara pun bisa merasakan kendaraannya cocok atau tidak dengan bahan bakar yang mereka isi.

Bila penasaran, Anda bisa mencoba isi bensin dengan oktan berbeda secara bergantian.Kemudian, rasakan efek tarikan mesinnya saat dikendarai. Bila ternyata mobil jadi makin bertenaga saat memakai RON yang lebih tinggi, itu tandanya Anda harus mengganti bensin dengan kualitas yang lebih baik.

Keuntungan BBM Non Subsidi

Perusahaan penyedia bahan bakar merancang BBM non subsidi dengan kandungan aditif yang bermanfaat untuk mesin. Terdapat 3 zat aditif tambahan yang bermanfaat pada pembakaran dan mesin, antara lain:

Detergency: yakni zat aditif yang berfungsi untuk membersihkan logam dari kotoran. Kandungan ini mengikis kotoran mulai tangki BBM, karburator, klep intake, silinder head, hingga ruang bakar.

  • Corrotion Inhibitor: Zat penghambat korosi atau karat pada logam mulai tangki BBM sampai mesin.
  • Demulsifier: sebagai pencegar terjadinya kristal air dalam BBM. Kristal air ini sering terbentuk pada BBM jenis premium dan menyebabkan pembakaran kurang sempurna.

Pemakaian bensin non subsidi sendiri sanggup mengeluarkan performa optimal mesin, asalkan masih dalam batas sensor pengapian. Anda hanya perlu menginjak gas lebih sedikit untuk menghasilkan tenaga yang sama. Dengan pembakaran lebih sempurna, mesin pun akan menghasilkan efisiensi lebih tinggi.

Tags

Related Articles

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker